Sabtu, 18 September 2010

MediaFire Email Verification

Welcome to MediaFire. To activate Mediafire you must first verify your email address by clicking the link below and entering the 4 digit pin:

http://www.mediafire.com/myaccount/email_validation.php?u=22bfa401217529b58324b73728a50fdbe850bcca8770bb96

Verification PIN: 8a00

If clicking the link above does not work, copy and paste the URL in a new browser window instead.

If you believe that you have received this email in error, please Click here

Thank you for using MediaFire.

For questions or concerns about your account, please visit the MediaFire support center at http://support.mediafire.com.

This is a post-only mailing. Replies to this message are not monitored or answered.

Free Background-Green Nods

Free Background-Green Nods

Jumat, 17 September 2010

Pesona Laut Raja Ampat






Sejumlah turis tampak asyik bersantap dan mengobrol santai sambil memandang lepas ke arah laut yang didominasi warna biru, hijau, dan putih. Warna-warna itu muncul karena pengaruh dari hamparan terumbu karang di dasar laut yang dangkal maupun dalam. Mereka sedang menikmati makan siang di Papua Diving Resort, perairan Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

Sebagian turis tampak berjalan-jalan di pantai berpasir putih halus. Ada pula yang sibuk di dermaga bersiap menaiki speedboat yang dilengkapi peralatan selam. Beberapa di antaranya sudah berada di kawasan itu lebih dari dua minggu. Mereka seolah tak bosan menyelam dan berjemur setiap hari sehingga membuat kulit yang putih nyaris gelap dibakar sinar matahari tropis yang menyengat.

Teriknya matahari dan cerahnya udara justru membuat gemas para tamu untuk kembali menyelam dan menyelam. Cahaya matahari kerap menembus celah-celah gelombang laut sampai ke karang. Keelokan pemandangan dan biota lautnya memang membuat kesan mendalam bagi para wisatawan. Bagi pencinta wisata pesisir dan bawah air yang fanatik, Raja Ampat sangat dikenal bahkan dinilai terbaik di dunia untuk kualitas terumbu karangnya.
Banyak fotografer bawah laut internasional mengabadikan pesona laut Raja Ampat. Bahkan ada yang datang berulang kali dan membuat buku khusus tentang keindahan terumbu karang dan biota laut kawasan ini. Pertengahan 2006 lalu, tim khusus dari majalah petualangan ilmiah terkemuka dunia, National Geographic, membuat liputan di Raja Ampat yang akan menjadi laporan utama pada 2007.

Sebanyak 610 Pulau

Raja Ampat adalah pecahan Kabupaten Sorong, sejak 2003. Kabupaten berpenduduk 31.000 jiwa ini memiliki 610 pulau (hanya 35 pulau yang dihuni) dengan luas wilayah sekitar 46.000 km2, namun hanya 6.000 km2 berupa daratan, 40.000 km2 lagi lautan. Pulau-pulau yang belum terjamah dan lautnya yang masih asri membuat wisatawan langsung terpikat. Mereka seakan ingin menjelajahi seluruh perairan di "Kepala Burung" Pulau Papua.

Wilayah ini sempat menjadi incaran para pemburu ikan karang dengan cara mengebom dan menebar racun sianida. Namun, masih banyak penduduk yang berupaya melindungi kawasan itu sehingga kekayaan lautnya bisa diselamatkan. Terumbu karang di laut Raja Ampat dinilai terlengkap di dunia. Dari 537 jenis karang dunia, 75 persennya berada di perairan ini. Ditemukan pula 1.104 jenis ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak), dan 537 jenis hewan karang. Luar biasa.

Bank Dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global menetapkan Raja Ampat sebagai salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mendapat bantuan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II, sejak 2005. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan kerapu dan rumput laut.

Eksotis

Papua Diving, satu-satunya resor eksotis yang menawarkan wisata bawah laut di kawasan itu, didatangi turis-turis penggemar selam yang betah selama berhari-hari bahkan hingga sebulan penuh mengarungi lekuk-lekuk dasar laut. Mereka seakan tak ingin kembali ke negeri masing-masing karena sudah mendapatkan "pulau surga yang tak ada duanya di bumi ini".

Pengelolanya tak gampang mempersiapkan tempat bagi wisatawan. Maximillian J Ammer, warga negara Belanda pemilik Papua Diving Resort yang juga pionir penggerak wisata laut kawasan ini, harus mati-matian menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari mancanegara. Sejak memulai usahanya delapan tahun lalu, banyak dana harus dikeluarkan. Namun, hasilnya juga memuaskan. Setiap tahun resor ini dikunjungi minimal 600 turis spesial yang menghabiskan waktu rata-rata dua pekan.

Penginapan sangat sederhana yang hanya berdinding serta beratap anyaman daun kelapa itu bertarif minimal 75 euro atau Rp 900.000 semalam. Jika ingin menyelam harus membayar 30 euro atau sekitar Rp 360.000 sekali menyelam pada satu lokasi tertentu. Kebanyakan wisatawan datang dari Eropa. Hanya beberapa wisatawan asal Indonesia yang menginap dan menyelam di sana.

"Turis menyelam hampir setiap hari karena lokasi penyelaman sangat luas dan beragam. Keindahan terumbu karangnya memang bervariasi sehingga banyak pilihan dan mengundang penasaran. Ada turis yang sudah berusia 80 tahun masih kuat menyelam," tutur Max Ammer yang beristrikan perempuan Manado.

Tiga tahun lalu, Papua Diving membangun penginapan modern tak jauh dari lokasi pertama. Ternyata, penginapan yang dibangun dengan mengandalkan bahan bangunan lokal ini hampir selalu penuh dipesan. Padahal tarifnya mencapai 225 euro atau sekitar Rp 2,7 juta per malam. Di lokasi yang baru, dilengkapi peralatan modern, termasuk fasilitas telepon internasional dan internet.

Turis ke Raja Ampat hanya ingin ke Papua Diving di Pulau Mansuar karena fasilitas dan pelayannya sudah berstandar internasional, juga makanannya. Mereka mendarat di Bandara Domne Eduard Osok, Sorong, langsung menuju lokasi dengan kapal cepat berkapasitas sekitar 10 orang yang tarifnya Rp 3,2 juta sekali jalan. Perlu waktu sekitar 3-4 jam untuk mencapai Mansuar.

Seperti pulau lainnya, Mansuar tampak asri karena hutannya masih terjaga dan air lautnya pun bersih sehingga biota laut yang tidak jauh dari permukaan bisa terlihat jelas. Turis cukup berenang atau ber-snorkelling untuk melihat keindahan laut, sedangkan jika ingin mengamati langsung kecantikan biota laut di kedalaman, mereka harus menyelam.

Merasa Aman

Warga lokal dilibatkan dalam pembangunan dan pengelolaan resor, bahkan 90 dari 100 karyawannya adalah warga Papua. Penduduk juga memasok ikan, sayur-mayur, buah-buahan, dan lainnya. Salah satu paket wisatanya mengunjungi perkampungan untuk melihat tanaman dan hewan khas setempat, termasuk burung Cendrawasih. Banyak wisatawan yang menjadi donatur pembangunan gereja dan pendidikan anak-anak sekitar Man- suar.

Max Ammer mempunyai komitmen untuk meningkatkan ekonomi dan keterampilan warga setempat. Mereka ada yang dilatih berbahasa asing dan menggunakan peralatan selam. Wisatawan pun merasa aman di kala siang maupun malam saat menikmati terik dan tenggelamnya matahari maupun saat berenang dan menyelam di laut yang sangat dalam.

Selain kelautan dan perikanan, Raja Ampat memiliki kekayaan sumber daya alam, antara lain minyak bumi dan nikel. Di dasar lautnya juga banyak terdapat kapal-kapal karam bekas Perang Dunia II yang diperkirakan memuat "harta karun" bernilai tinggi. Namun, jika salah kelola, kegiatan eksploitasi semua itu dikhawatirkan mengancam kelestarian dan keindahan alam lautnya.

Jaya Wijaya, Papua; Nikmati Festival Lembah Baliem





Lembah Baliem tempat tinggal orang Dani. Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Buku foto Gardens of War, film dokumenter Dead Birds, hasil ekspedisi antropologi yang pertama ke sana tahun 1961 jadi penyebabnya.
Tidak salah memang pendapat itu jika menyaksikan Festival Lembah Baliem. Festival yang merayakan datangnya hari Kemerdekaan Indonesia. Berbagai desa memperagakan peragaan ulang berbagai kasus perang di antara kampung mereka. Lengkap dengan lempar-lemparan tombak dan saling tembak panah. Bedanya dengan dulu tidak ada yang luka.
Tahun lalu pesta ini diselenggarakan di Dugum Dani desa awal di mana penelitian itu berlangsung. Sebanyak seribu lebih warga dari tujuh kecamatan hadir. Bahkan dari masyarakat Yali dari Abenaho yang berada di luar Lembah Baliem hadir. Mereka pun memeragakan penyebab dan taktik perang.
Strategi perang sih sederhana saja. Awalnya membalas dendam yang asal-muasalnya kerap tidak jelas lagi. Hanya saja ada pemicu awal. Contohnya yang diperagakan berbagai desa adalah penculikan warga, pembunuh anak warga, penyerbuan ladang yang baru dibuka.
Setelah begini penyerbuan pun dilakukan. Sementara lawan, yang biasanya sudah tahu, akan bertahan. Jadilah pertempuran terjadi di tengah lapang luas. Lapangan seperti ini yang dipakai di luar kampung Dugum.
Warga kecamatan Kurulu yang tahun ini menjadi tuan rumah. Artinya mereka menyediakan tempat bagi tamu yang bermalam ke sana. Malam diisi dengan pesta dansa, dan konon juga saling gaul. Kebebasan yang mungkin jadi penyebab kasus HIV tertinggi di Indonesia ada di Papua. Tahun lalu di Kurima. Juga peragaan perang dilakukan di tengah padang rumput. Ini terus berulang dari tahun ke tahun, sejak awalnya di tahun 70an.
Awalnya pesta ini digunakan untuk menyalurkan adat perang. Maksudnya agar penyelesaian konflik dengan perang berganti dengan masuknya pemerintahan daerah, yakni Kabupaten Jayawijaya. Artinya konflik diselesaikan lewat kekuasaan pemda atau lewat pengadilan. Perang hanya boleh perang-perangan dengan disaksikan pendatang, petugas, pejabat dan wisatawan.
Bahkan pada festival terakhir ini tarian perang, begitu acara itu sekarang disebut, sudah dilarang. Namun, menurut Zakeus Daby salah seorang guru dari Kurulu, masyarakat minta izin tetap dilakukan perang-perangan. Dan memang dari keseluruhan atraksi itu hanya tarian perang yang seru.
Bahkan pada pertunjukan-pertunjukan pertengahan ketika desa Kurulu berlagak suasana makin seru. Lempar-lempar semakin tipis melesetnya. Panah berterbangan tinggi melewati kepala penonton di tepi lapangan. Lari makin cepat, merunduk makin rendah. Wisatawan asing yang jumlahnya hampir seratus kelihatan makin bergairah.
Boleh jadi wisata di Indonesia terpuruk. Tetapi di Papua, jelas kunjungan wisatawan mancanegara meningkat. ”Ini jumlah yang terbesar selama ini, hotel kami penuh,” jelas resepsionis di Baliem Pilamo salah satu dari hanya tiga hotel berkelas di Wamena.
Keluhan penuhnya hotel pun datang dari para pegawai dan pebisnis yang berkiprah di Wamena. Mereka mengeluh karena tidak kebagian tempat. Bahkan mereka khawatir tidak bisa berkendaraan. Maklum keluar masuk Lembah Baliem hanya ada transportasi udara. Cuaca buruk menghambat penerbangan.
Padahal sekarang ini sudah ada tiga layanan penerbangan untuk keluar masuk Wamena. Merpati yang paling tua, kemudian ada Trigana dan terakhir yang paling muda Air Mark. Mereka tidak hanya satu kali penerbangan, rata-rata dua kali. Namun semua memilih pagi hari, karena penerbangan kedua dan ketiga menanggung risiko terhambat cuaca.
Sayang, acara yang ditunggu-tunggu juga tidak tertata rapih. Undangan pukul sembilan pagi, sementara acara baru mulai tengah hari. Itu pun hanya mengandalkan pemandangan serta eksotisme budaya yang tidak seberapa canggih. Biaya per orang dari Jayapura untuk menikmati sepekan di Lembah Baliem mencapai tujuh juta rupiah. Wisatawan sudah banyak datang ke sana, termasuk empat pasang dari Jogyakarta dan Jakarta, pemenang undian Telkomsel.
Paling tidak ini membuktikan daya tarik besar dari wisata di Indonesia. Tidak harus terkonsentrasi pada Bali maupun kejadian yang memperpuruk bangsa. Masih luas dan beragam yang bisa ditawarkan Indonesia. Di antaranya Festival Lembah Baliem yang bisa jadi daya tarik utama wisata kita kini.

Papua; Mutiara dari Timur




Tidak kurang dari empat belas kabupaten di Papua mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Banyak pilihan yang bisa kita kunjungi, ada wisata bahari yang mempersembahkan taman laut yang mempesona, wisata budaya, sejarah dan terlebih wisata fauna dan flora yang mungkin tidak bisa kita temui ditempat lain. Semua tempat wisata yang mengagumkan ini masih sangat alami. Dengan peradaban masyarakat pedalaman yang masih primitive, menjadikan Papua sebagai sebuah tempat yang sangat menarik perhatian para wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal.

Kota Jaya Pura yang dulu dikenal dengan nama Hollandia terdapat sebuah museum yang menyediakan berbagai informasi budaya di Papua seperti ukiran dari berbagai kabupaten, alat perang, tenunan dan tarian adat, serta berbagai ritus dan peninggalan purbakala.

Di Sentani juga terdapat tugu Jendral Douglas Mc Arthur peninggalan Perang Dunia II. Di sebelah utara monument Mc Arthur pada ketinggian 325 meter terdapat dataran pegunungan Cyclop dengan puncak gunung Dofonsoro. Daerah ini sangat indah dan dahulu kala tempat ini merupakan pangkalan pertahanan Mc Arthur.

Dari puncak Cyclops dapat dipantau Danau Sentani dengan air yang bening biru. Danau seluas 9.670 hektar merupakan tempat mata pencarian penduduk Sentani dan sekitarnya. Danau sentani juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah dan sangat cocok untuk bersantai.

Jika kita ingin meneruskan perjalanan dari Jayapura, tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Biak. Di Kecamtan Biak Timur tetaptnya di desa RIM terdapat taman burung yang menampilkan bermacam jenis burung langka khas Irian yang hanya dapat ditemui di Papua. Luas taman burung ini mencapai sekitar dua hektar.

Di derah ini juga memiliki taman laut yang sangat indah. Terletak dikepulauan Padaido yang terdiri dari 30 pulau kecil dan besar. Taman laut Padaido ini merupakan taman laut berkelas dunia yang terdiri dari berbagai tumbuhan laut, terumbu karang dan berbagai macam jenis ikan besar maupun kecil.

Taman Nasional Laurentz terletak di Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, dan Merauke. Di Puncak Jaya atau puncak Cartenz terdapat puncak salju abadi. Puncaknya bertudung es. Puncak Jaya ini tadinya disebut puncak Cartenz, sebuah puncak gunung yang ditemukan oleh orang Belanda tahun 1678. Puncak Cartenz merupakan satu-satunya puncak gunung yang diselimuti salju abadi yang ada di Asia Tenggara.

Selain Taman Nasional Laurentz Papua juga memiliki Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).

Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.

Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.Jika anda ingin berkunjung atau sekedar melancong, Antara Bulan Mei sampai dengan Oktober adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Papua.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
  • Pulau Rumberpon. Pengamatan satwa (burung), penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, kerangka pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut.
  • Pulau Nusrowi. Menyelam dan snorkeling, wisata bahari, pengamatan satwa.
  • Pulau Mioswaar. Sumber air panas, air terjun, menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya.
  • Pulau Yoop dan perairan Windesi. Pengamatan ikan paus dan ikan lumba-lumba.
  • Pulau Roon. Pengamatan satwa burung, menyelam dan snorkeling, air terjun, wisata budaya, dan gereja tua.

Menyatu dengan Perang Suku di Papua






Pagi kian beranjak siang. Di sebuah dataran luas di antara pegunungan hijau, puluhan orang telah berkumpul. Tiap orang menggenggam senjata tajam atau panah, lengkap dengan segala atribut perangnya. Kesan garang terlukis jelas dl wajah-wajah mereka. Sebuah perang suku bakal pecah di Lembah Baliem, Papua. Betul saja, setelah mengatur strateginya masing-masing, perang tak dapat dihindari. Kedua kelompok saling mengejar dan melepaskan anak panah. Sambil mengacung-acungkan senjata di tangannya, mereka terus berteriak-teriak untuk membakar semangat. Sementara wanita dan anak-anak berlarian untuk menyelamatkan diri.

Anda pasti sepakat, kejadian itu sudah pasti sesuatu yang amat menyedihkan. Tapi anehnya, saat menyaksikan peristiwa di atas, perasaan yang muncul justru sebaliknya. Lho kok bisa gitu? Sebab, perang yang tampaknya beringas itu sebenarnya bukanlah perang sungguhan, melainkan sebuah tari atau tepatnya simulasi perang yang menjadi bagian atraksi yang diperagakan oleh Suku Dani dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena, Papua.

Membentang di antara lekukan-lekukan Pegunungan Tengah Jayawijaya, Lembah Baliem sudah sejak lama menjadi tempat penyelenggaraan festival budaya tahunan terbesar di tanah Papua ini. Di lembah inilah, masyarakat Suku Dani hidup harmonis dan menyatu dalam pelukan pegunungan yang mengelilingnya serta alam Papua yang indah menawan. Selain sebagai 'rumah', Lembah Baliem kerap menjadi arena perang oleh suku-suku yang bertikai dan menjadi arena pembantaian mereka yang berperang demi kejayaan suku yang dibanggakannya.

Keberadaan Lembah Baliem sendiri baru muncul ke permukaan pada tahun 1930-an dengan adanya laporan yang menyebutkan bahwa terdapat sekelompok suku-suku primitif yang hidup di lembah itu. Sekitar 10 tahun kemudian, lembah yang terisolasi dari pengaruh asing ini makin dikenal oleh dunia luar, setelah majalah National Geographic menempatkan lembah ini di peta dunia pada majalah terbitannya.

Hal ini juga menandakan untuk pertama kalinya lembah sepanjang 80 km dan lebar 20 km ini masuk dalam peta dunia. Sejak itu pula banyak orang yang penasaran untuk mendatangi Lembah Baliem untuk mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan lembah ini. Mereka umumnya berprofesi sebagai social worker, seperti guru, perawat, dokter, serta misionaris yang menyebarkan agama Nasrani.

Bukan War-a-holic

Sudah sejak dulu, perang menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Suku Dani serta suku lain di Papua. Bagi mereka, perang memiliki beberapa makna yang dalam. Selain sudah menjadi tradisi turun temurun, perang dianggap bukan sekedar ajang untuk saling adu kekuatan antarsuku saja, tapi juga lambang kesuburan dan kesejahteraan. Artinya, bila tak ada perang maka jangan harap panen dan ternak babi akan berhasil dan sehat. Kalau sudah begini, mereka pun harus bersiap diri untuk menghadapi musim paceklik.

Di sisi lain, perang juga menjadi ajang untuk mencari popularitas sebuah suku. Dengan memenangkan perang, nama suku akan makin terkenal dan ditakuti oleh suku-suku lain. Sedangkan bagi para pemuda, perang suku dianggap sebagai ajang mencari jati diri untuk menjadi manusia sejati, ulet dan bermartabat demi kemajuan wilayahnya, baik sekarang dan masa depan. Pecahnya perang di kawasan ini sendiri disebabkan oleh beberapa hal yang kebanyakan karena masalah sengketa batas wilayah, wanita, atau karena wim (hewan piaraan).

Bila perang akan terjadi maka Lembah Baliem-lah arena yang kerap digunakan. Ini bukan berarti suku-suku itu war-a-holic atau selalu mencari keributan. Karena sesungguhnya, mereka pun ingin hidup damai dan tentram seperti masyarakat lain agar bisa membangun wilayahnya.

Ragam Atraksi Menarik

Sejak digelar pertama kalinya pada tahun 1991, atraksi tari perang atau dim dalam bahasa Suku Dani, menjadi atraksi utama pada setiap pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem. Uniknya, tema yang diusung dalam tari ini bukan tentang dendam atau permusuhan melainkan sesuatu yang bersifat positif yang populer dengan sebutan Yogotak Hubuluk Motog Hanorogo (harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini).

Festival Lembah Baliem berlangsung sekitar 3 hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus. Tari ini biasanya diikuti oleh sekitar 26 suku yang mendiami sekitar Lembah Baliem. Masing-masing peserta terdiri dari 30 - 50 kelompok dan tiap kelompoknya berjumlah 50 - 100 orang. Para peserta masing-masing bersenjata tombak, panah dan parang, lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah serta pernak pernik perang.

Selain tari perang, Festival Budaya Lembah Baliem menawarkan 6 acara penting lain yang hampir selalu digelar. Salah satunya adalah pertunjukan Pikon atau musik tradisional yang digelar untuk menghibur seluruh pengunjung. Terbuat dari hite atau kayu, lagu-lagu yang dimainkan dengan Pikon mengisahkan tentang kehidupan manusia. Uniknya, meski kelihatan mudah, temyata tidak semua orang Papua mampu memainkan alat musik ini. Alat musik ini mampu memunculkan suara-suara yang nyaris sama dengan suara binatang.

Beragam permainan tradisional turut memeriahkan Festival Lembah Baliem. Acara ini tak hanya dapat disaksikan, tapi bila pengunjung atau para wisatawan berminat, bisa turut serta dalam permainan. Memanah, melempar sege alias tongkat ke target yang telah ditentukan, puradan, permainan menggulirkan roda dari anyaman rotan dan sikoko, sebuah lomba melemparkan pion ke sasaran yang telah ditentukan, adalah permainan yang kerap ditampilkan dalam festival ini.

Tak jarang, Festival Lembah Baliem bertambah marak berkat acara pendukung yang tak kalah seru dan unik lainnya. Sebut saja kerapan babi atau lomba pacuan babi, lomba menganyam serta beragam acara lainnya.

Real Challenge

Untuk menyaksikan keunikan yang ditawarkan Festival Budaya Lembah Baliem serta keelokan alam Papua merupakan tantangan tersendiri dan membutuhkan persiapan yang khusus. Perjalanan panjang yang harus ditempuh dari Jakarta - Wamena, jelas membutuhkan biaya, waktu serta resiko yang tergolong tinggi. Belum lagi, kondisi selama di sana, yang bisa dikatakan, jauh dari segala fasilitas yang mampu memanjakan tubuh. Sudah pasti hal itu akan menambah panjang daftar challenge yang harus dihadapi.

Namun, semua keraguan dan kesulitan itu akan terbayar lunas usai menyaksikan seluruh rangkaian acara festival yang unik di Lembah Baliem. Sebab hanya di sinilah Anda bisa menyaksikan secara langsung kehidupan Suku Dani yang sesungguhnya. Di sini pula Anda dapat menyatu dan berbaur dengan masyarakat yang masih memegang teguh tradisinya yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang kita miliki. Semua yang dijumpai di Lembah Baliem pastinya akan membuat perjalanan Anda akan selalu terkenang sepanjang masa.

Carstensz Pyramide, Sulitnya Menggapai Atap Indonesia





Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran pegunungan Jayawijaya dan Sudirman (Carstensz Pyramide), Irian Jaya, adalah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia. Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis tetapi termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua.
Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki puncak tertinggi di Australasia ini. Tak kurang dari Heinrich Harrer si pendaki yang hidupnya diperankan Brad Pitt dalam Seven Years In Tibet menjadi orang pertama yang mendaki Carstensz Pyramid. Kemudian Reinhold Messner pendaki pertama yang mencapai 14 puncak di atas 8.000 meter.

Pat Morrow yang mencanangkan Carstensz Pyramid sebagai satu dari tujuh puncak di tujuh benua bumi ini. Irian itu bagian dari benua Australasia katanya. Ini mengakibat pendaki-pendaki kelas dunia berbondong-bondong mengikuti jejaknya di antaranya pendaki wanita pertama Everest Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.

Sayang, liatnya prosedur izin yang harus dimiliki, membuat banyak pendaki harus mengurungkan niatnya untuk berekspedisi. Apalagi wilayah pegunungan tengah Irian Jaya sempat tertutup untuk pendakian sejak kasus penculikan di Mapenduma 1995 – 1996.

Izin Mendaki yang Rumit
Di kalangan pendaki gunung di Indonesia ada satir tentang pendakian gunung di Irian Jaya. ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” keluh mereka. Izin pendakian gunung – utamanya ke Carstensz Pyramide – di Irian Jaya memang rumit dan tidak jelas. Tidak ada selembar surat izin yang sah seperti misalnya pendakian di Nepal di mana pendaki diberikan semacam paspor selembar lengkap dengan foto dan keterangan izin mendaki puncak ketinggian berapa di daerah mana.

Di Nepal ketika berhasil dan bisa menyerahkan bukti pun Departemen Pariwisata yang menangani izin ini mengeluarkan surat keterangan kesuksesan pendaki. Ketidakjelasan ini – hal yang biasa terjadi selama Orde Baru – selama bertahun-tahun bertahan dengan alasan klasik, keamanan.
Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA – intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI).

Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.

”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia – Everest ’97 ini. Galih mencapai puncak Carstensz Pyramid bersama tim Cina pada awal tahun Millenium ini. Bersama beberapa pendaki sipil dan militer, mereka menggunakan rute Timika lewat Tembagapura untuk mencapai kemah induk.

Jika lewat Nabire, surat dari Bakorstranasda dan Polda Irian Jaya harus dilaporkan ke Polres Paniai dan Kodim Nabire, yang keduanya ada di kota Nabire. Lalu terakhir di Ilaga, semua surat rekomendasi diberikan ke Tripika setempat (Ilaga) yaitu Polsek, Koramil dan Camat.

Tapi tunggu dulu, ketiga pimpinan tersebut akan memutuskan bisa atau tidaknya pendaki meneruskan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai. Nah itulah daftar panjang surat rekomendasi untuk mendaki atap Indonesia itu. Rumit dan repot.
Bambang Hertadi Mas, petualang dan pesepeda jarak jauh kawakan, sempat mengurungkan niatnya untuk berekspedisi ke puncak Carstensz Pyramide, gara-gara sulitnya mengurus izin pendakian itu. Paimo, panggilan akrab Bambang, lebih memilih memanjat Gunung Kilimanjaro, di benua Afrika untuk ekspedisi tahun 1987. ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda,” begitu komentar Paimo waktu itu.

Sebagian besar pemandu gunung, pendaki profesional sampai kelas amatiran, harus menelan kekecewaan. Padahal menurut mereka, banyak sekali turis-turis mancanegara yang ingin menggapai salju putih di kawasan tropis. Kegamangan masalah politik bumi Cendrawasih ini juga mengganggu upaya untuk menjadikan Carstensz Pyramid dan pegunungan Sudirman sebagai tujuan wisata yang bisa jadi andalan Papua. Bagi sebagian orang, Carstensz merupakan sumber rezeki tersendiri dan punya nilai jual yang tinggi.

Kelangkaan informasi tentang kedua pegunungan itu juga menjadikan minat terhadap pendakian gunung di Irian Jaya – utamanya Carstensz Pyramide – harus surut di tengah jalan. Kecuali, bagi para pendaki yang cukup dana dan pengalaman. Tak banyak buku-buku ”keluaran” negeri sendiri yang benar-benar menceritakan nikmatnya bertualang menggapai atap Indonesia itu. Paling-paling hanyalah beberapa bentuk tulisan hasil ekspedisi ke sana.

Akhirnya, pendaki-pendaki lokal harus pontang-panting mencari informasi ke beberapa perkumpulan pencinta alam ternama dan berpengalaman di negeri ini. Tapi itu mungkin tidak seberapa rumit jika dibandingkan dengan mengurus perizinannya. Sampai kapan?